SEJARAH SENI BELA DIRI TIGA SERANGKAI
perguruan senia bela diri tiga serangkai ini merupakan suatu perguruan seni bela diri doa dan tenaga dalam. perguruan tiga serangkai berasal dari desa yang terpencil yaitu desa jukong.
Perguruan TS ini adalah seni beladiri do’a yang terbentuk, dri nilai nilai norma agama
Perguruan ini telah mengembangkan keilmuannya sesuai dengan potensi tenaga dalam yang ada pada setiap tubuh manusia serta melalui kekuatan supra natural, permohonan dan do’a kepada Allah SWT. Tuhan Yang Maha Esa sehingga dapat dimanfa’atkan untuk berbagai keperluan hidup,seperti pengobatan, terapi dll
di perguruan tiga serangkai ini mempunya 4 pantangan, tetapi pantangan tersebut bukan murni dari perguruan tiga serangkai, yaitu murni dari allah swt,
empat pantangan tersebut antara lainnya :
1. tidak boleh melawan orang tua
2. dilarang minum minuman keras
3. makanan haram seperti babi
4. berzina
jika melanggar salah satunya maka isian tersebut akan hilang saat itu juga, karna allah swt sangat tidak menyukai umatnya yg melakukan perbuatan hal hal seperti itu.
Guru Besar ( Pembina ) dan sekaligus sebagai pendiri Perguruan TS adalah Bapak Drs.Ec.Sugianto. sifatnya yang sangat ramah, baik hati, rendah diri di sukai oleh masyarakat sekitarnya, maka tidak heranlah perguruan ini sangat berkembang baik di seluruh pelosok tanah air
berdirinya Perguruan TS ini senantiasa erat hubungannya dengan keberadaan Guru Besar atau bapak Pembina. Sejarah Perguruan TS ini tidaklah terlepas dari perjalanan dan pengalaman hidup bapak Pembina dalam menggeluti dan menempa diri ilmu-ilmu beladiri, baik ilmu beladiri fisik maupun beladiri non fisik. Berkat pengalaman dan penguasaan ilmu yang didapat itulah menjadikan beliau sebagai seorang Guru Besar yang berwibawa dan kharismatik di mata murid-muridnya.
di perguruan tiga serangkai in sangat memerlukan beberapa unsur, yaitu Kemampuan, Pengetahuan, Sugesti yang yakin dan Etika (Akhlaqul Karimah) yang membentuk suatu kekuatan / tenaga yang utuh dan sempurna.
Ternyata ilmu seni beladiri do’a tersebut memiliki keunggulan tersendiri yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga maupun masyarakat.
Untuk lebih memantapkan dan menyempurnakan ke-ilmuannya, Pembina mengkonsultasikan ilmu seni beladiri do’a tersebut kepada salah seorang gurunya ( ahli ma’rifat ) dari Ledokombo yaitu K.H.Misra’i. Berkat saran guru K.H.Misra’i itu pula, maka Pembina hijrah ke Madura dan mulai mengembangkan ilmu beladiri do’a tersebut.
Ternyata ilmu seni beladiri do’a tersebut memiliki keunggulan tersendiri yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga maupun masyarakat.
Untuk lebih memantapkan dan menyempurnakan ke-ilmuannya, Pembina mengkonsultasikan ilmu seni beladiri do’a tersebut kepada salah seorang gurunya ( ahli ma’rifat ) dari Ledokombo yaitu K.H.Misra’i. Berkat saran guru K.H.Misra’i itu pula, maka Pembina hijrah ke Madura dan mulai mengembangkan ilmu beladiri do’a tersebut.
Pembina pertama kali mengajarkan dan menularkan ilmu seni beladiri do’a tersebut hanya di lingkungan keluarga dan kerabat dekatnya.
Tetapi karna dampak positif dan manfaat yang sangat dirasakan oleh masyarakat serta atas desakan sesepuh / tokoh masyarakat sekitarnya, akhirnya dengan keikhlasan hati yang tulus Pembina membuka diri dan mengajarkannya kepada siapa saja yang betul-betul berminat.
Pada tanggal I April 1991 terbentuklah suatu organisasi seni beladiri yang membuka tiga cabang sekaligus dalam waktu yang bersamaan, yaitu Cabang Jukong, Cabang Kalisat, dan Cabang Jember. Guna mengenang dan mengingat hari yang bersejarah itu, organisasi ilmu seni beladiri do’a ini diberi nama “ Perguruan Seni Beladiri Silat Tiga Serangkai “ dan Desa Jukong ditetapkan sebagai Pusat Perguruan TS karena Pembina bertempat tinggal dan berdomisili di Desa Jukong, Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan.
Tetapi karna dampak positif dan manfaat yang sangat dirasakan oleh masyarakat serta atas desakan sesepuh / tokoh masyarakat sekitarnya, akhirnya dengan keikhlasan hati yang tulus Pembina membuka diri dan mengajarkannya kepada siapa saja yang betul-betul berminat.
Pada tanggal I April 1991 terbentuklah suatu organisasi seni beladiri yang membuka tiga cabang sekaligus dalam waktu yang bersamaan, yaitu Cabang Jukong, Cabang Kalisat, dan Cabang Jember. Guna mengenang dan mengingat hari yang bersejarah itu, organisasi ilmu seni beladiri do’a ini diberi nama “ Perguruan Seni Beladiri Silat Tiga Serangkai “ dan Desa Jukong ditetapkan sebagai Pusat Perguruan TS karena Pembina bertempat tinggal dan berdomisili di Desa Jukong, Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan.
maka Sejak itulah tonggak sejarah Perguruan Seni Beladiri Silat Tiga Serangkai berkembang terus hingga sekarang.
Pada tanggal 23 Mei 1991 Perguruan Seni Beladiri Silat Tiga Serangkai terdaftar sebagai Organisasi Kesenian/Kebudayaan pada Kantor Depdikbud Kabupaten Bangkalan dengan
Nomer Induk : 27 / E / 2 G / I.04.13 / C / 1991 serta berdasarkan Surat Keputusan Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Indonesia ( IPSI ) Kabupaten Bangkalan Nomer : 02 / IPSI / PC.BKL / 93 / SK tanggal 22 Nopember 1993 secara resmi Perguruan TS ini dinyatakan sah sebagai anggota IPSI Cabang Kabupaten Bangkalan.
Pada tanggal 23 Mei 1991 Perguruan Seni Beladiri Silat Tiga Serangkai terdaftar sebagai Organisasi Kesenian/Kebudayaan pada Kantor Depdikbud Kabupaten Bangkalan dengan
Nomer Induk : 27 / E / 2 G / I.04.13 / C / 1991 serta berdasarkan Surat Keputusan Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Indonesia ( IPSI ) Kabupaten Bangkalan Nomer : 02 / IPSI / PC.BKL / 93 / SK tanggal 22 Nopember 1993 secara resmi Perguruan TS ini dinyatakan sah sebagai anggota IPSI Cabang Kabupaten Bangkalan.
" Semoga Perguruan Seni Beladiri Silat Tiga Serangkai senantiasa berkarya, utuh, kuat, jaya dan selalu dalam ridho Allah SWT. Amien "
Tidak ada komentar:
Posting Komentar